Feeds:
Pos
Komentar

Ada satu pekerjaan, kecil mungkin, yang sering tidak dilakukan oleh manusia, yaitu berbaik sangka, entah itu berbaik sangka pada sesama manusia, terutama berbaik sangka padaAllah.

Ingatkah kita tentang kisah Siti Hajr dan Ismail yang ditinggal oleh suaminya, Ibrahim di sebuah lembah tak bertuan??ketika itu Siti Hajr baru melahirkan Ismail dan Ismail baru berumur beberapa hari, sang suami tercinta Ibrahim mendapat tugas dari Allah dan harus meninggalkan dua orang yang sangat dicintainya itu di lembah tak bertuan, yang sekarang menjadi tempat beradanya Ka’bah. Secara manusiawi sangat wajar jika Hajr protes, sebagai seorang wanita yang baru saja melahirkan kemudian akan ditinggalkan karena sebuah tugas oleh suaminya, itupun ditinggalkan tanpa bekal apa-apa. Tapi tidak dengan Hajr, dia adalah wanita mulia, penurun nasab mulia sampai generasi-generasi selanjutnya. Yang terlontar dari mulut Hajr hanya satu tanya pada sang suami, Ibrahim, “Allahkah yang menyuruhmu meninggalkan kami disini??”. “Ya”, jawab Ibrahim. “Kalau begitu pergilah wahai suamiku, Dia pasti tak akan menyiakan kami”. Subhanallah!!Begitu jawaban lugas Siti Hajr. Dan di akhir nanti kita memang tahu Hajr dan Ismail dijaga oleh Allah dan sampai sekarang lembah itu menjadi lembah yang subur dan makmur, Makkah

Atau ingatkah kita, masih kisah tentang Ismail dan Ibrahim,ketika Ibrahim mendapat perintah dari Allah melalui mimpinya untuk menyembelih sang putera tercinta, sang putera yang sangat lama dinantikan, yang selalu ia pinta dalam doanya. Sangat wajar rasanya bagi seorang anak, apalagi ketika itu baru berumur 8 tahun, untuk protes atas apa yang akan dilakukan ayahnya. Tapi tidak begitu dengan Ismail. Satu tanggapan tegasnya, “…Hai bapakku, kerjakanlahapa yang diperintahkan (Allah)kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatikutermasuk orang-orang yang sabar” ( QS As shaaffat 102). Dan di akhir kisah kita tahu bahwa Allahmengganti Ismail dengan seekor kibas.

Atau  ingatkah kita tentang kisah seorang ibu yang mendapat petunjuk untuk menghanyutkan bayi mungilnya ke sebuah sungai, untuk tujuan yang sepertinya kontradiktif dengan apa yang dilakukannya,menyelamatkan anaknya. Ya, inilah kisah tentang Musa dan sang ibundanya. Dikala aturan Fir’aun menyatakan tak boleh ada bayi laki2 yang hidup,maka sang bunda menghanyutkan bayinya ke sebuah sungai. Dan ketika semua ia serahkan pada Sang Khaliq, lihatlah, bayi itu, Musa justru hanyut ke “kandang macan”, kekawasan kerajan Fir’aun, dibesarkan disana, menjadi anak angkat Fir’aun, dibesarkan tetap oleh ibunya. Dan diujung cerita nanti kita tahu bahwa, bayi ini, Musa dengan izin Allah menumbangkan Fir’aun dengan segala kecongkakannya.

atau satu kisah lagi, kisah tentang serombongan anak manusia yang diminta meninggalkan negeri yang dicintainya,yang menjamin kehidupannya, demi menyelamatkan keimanan di dada mereka. ya, inilah kisah tentang muhajirin yang diminta Rasul hijrah dari Mekkah,tanah air tercinta, ke negeri antah berantah, Yatsrib. jika hanya pertimabangan manusiawi dan logika normal saja, wajar mungkin jika para sahabat protes pada Rasulullah. tapi tidak, semua mereka berbaik sangka pada apa perintah Allah pada mereka melalui RasulNya. dan lihatlah akhirnya. kepindahan mereka ke tanah Yatsrib justru membuat mereka kembali menginjak Makkah dalam kondisi yang jauh lebih mulia

Itulah luar biasanya, kesudahan orang-orang yang berbaik sangka kepada Allah!!!

Mungkin sepotong ayat Allah ini sudah sangat akrab di lisandan telinga kita :

“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baikbagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat burukbagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS AlBaqarah 216)

Ya inilah kira-kira salah satu ayat Allah yang secara gamblang memerintahkan pada kita untuk berbaik sangka pada apa yang diberikan Allah pada kita. Disini jelas Allah menjanjikan yang terbaik bagi kita,tentunya menurut Allah bukan menurut kita. Allah adalah yang menciptakan kita dan tentunya sangat tahu dan sangat mengerti apa yang menjadi yang terbaik bagi kita, ciptaanNya. Tapi kalau yang terbaik menurut kita seringkali tak objektif,sudah pasti bercampur baur dengan hawa nafsu kita.

So, sudah kita lihat kesemua kisah diatas, yang memperlihatkan betapa indahnya sesuatu yang mungkin buruk logika normal manusia, tetapi ketika kita berbaik sangka pada Allah sangat indah kesudahannya.

Masihkah kita akan berburuk sangka pada Allah akan setiap pemberianNya pada kita???

Meminang Bidadari

“Menikah ?

“Ya …” “Tentu.”JAwab Ayesha tanpa ragu.

“Pertimbangkan dulu, Jangan cepat ambil keputusan.”

Bibinya memang benar, Ayesha sedikit tersipu, tangan kanannya membenahi abaya yang dipakainya dengan rikuh. “Dengan Siapa, Ammah ?” Wajah lembut itu tiba-tiba mengeras. Kedua matanya mendadak menyembung. mungkin karena air mata yang siap turun. entah kenapa, Luapan bahagiakah, karena keponakannya yang sudah di urus sejak kecil, akhirnya ada yang meminang ???

Ayesha menunggu jawaban dari amahnya. Tapi beberapa kejab hanya dilalui gelombang senyap. “ammah …… dengan siapa ???” pandangan tajam wanita berumur itu menembus bola mata Ayesha. Seperti menimbang – nimbang kesiapan keponakan yang dicintainya itu, menikah. Ayesha membalas pandang, lebih karena ia tak mengerti kenapa pernikahan, kalau memang itu yang akan terjadi padanya, tak disambut ammah dengan riang, seperti pernikahan-pernikahan pada umumnya.

“Dengan Ayyash !!!” Ayyash ????

Ammah mengangguk. Wajahnya pucat, namun terkesan lega. Biarlah ….. biarlah Ayesha yang memutuskan, ini hidupnya. Suara hati wanita itu bicara. Di depannya tubuh Ayesha seperti kaku. Seolah tidak percaya . Senang, tapi juga tahu apa yang akan dihadapinya. Berita itu mungkin benar. Yang jadi pertanyaan, Siapakah dia ??????

“Kau pikirkan dulu. Ya ??? Ia memberi waktu sampai tiga hari. Katanya lebih cepat lebih baik.” Ayesha masih tidak bergerak. Pandangannya menembus jendela, menyisiri rumah-rumah di lingkungannya dan debu tebal yang terembus di jalan. Pernikahan …….. sungguh penantian semua gadis. Dengan Ayyash pula, siapa yang keberatan ??? Tapi semuapun tahu, apa arti sebuah pernikahandi Palestina. Tantangan, perjuangan lain yang membutuhkan kesiapan lebih besar. Terutama bagi setiap gadis, yang menikahi pemuda pejuang macam Ayyash !

Dulu sekali, sewaktu kescil, ia tidak memungkiri, kerap memperhatikan Ayyash dan teman-temannya dari balik kerudung yang biasa ditutupkannya ke wajah. Jika mereka kebetulan berpapasan. Mereka bertetangga. Begitulah Ayesha mengenalnya, dan melihat bocah lelaki yang usianya lebih tua lima tahun darinya, tumbuh dewasa. Ayah Ayyash salah satu pemegang pimpinan tertinggi di Hamas, sebelum tewas dalam aksi penyerangan markas tentara Israel. Ibunya, memimpin para wanita Palestina dalam berbagai kesempatan, mencegat, dan mengacaukan barisan tentara yahudi, yang sedang melakukan pengejaran atas pejuang intifadah. Mereka biasa muncul tiba-tiba dari balik tikungan yang sepi, atau memadat di pasar-pasar, dan menyulitkan pasukan Isarel yang mencari penyusup. Bukan tanpa resiko, karena semuapun tahu, para tentara itu tak menaruh belas kasihan pada perempuan, atau anak-anak. Para perempuan yang bergabung, menyadari betul apa yang mereka hadapi. terkena tamparan atau tendangan, bahkan popor senapan, hingga tubuh mengucurkan darah, bahkan terlepasnya nyawa, adalah taruhannya. Ayesha sejak lima tahun lalu, tak pernah meninggalkan satu kalipun aksi yang diadakan. Ia iri dengan para lelaki yang mendapat kesempatan lebih memegang senjata. Itu sebabnya kemudian gadis berkulit putih kemerahan itu, tak ingin kehilangan kesempatan jihadnya, sejak usia belia.

Tiga tahun lalu, ketika ibunda Ayyash syahid, dalam satu aksinya, setelah sebuah peluru mendarat di dahinya, mereka semua datang, juga Ayesha, untuk menyalatkan wanita pejuang itu. Pedihnya kehilangan Ummi, Ayesha menyadari perasaan berduka yang bagaimanapun memang manusiawi. Begitu kagumnya ia melihat ketegaran Ayyash, mengatur semua prosesi, hingga tanah menutup dan memisahkannya dari bunda tercinta. Tak ada sedu sedan, tak ada air mata. hanya doa yang terucap yang tak putus. Begitulah Ayyash menghadapi kehilangan abi, saudara-saudara lelakinya, adik perempuannya yang paling kecil, lalu terakhir ummi yang dikasihi. Begitu pula yang dipahami Ayesha, cara pejuang menghadapi kematian keluarga yang mereka cintai. Dan kini, Ayesha dua puluh dua tahun. masih menyimpan pendar kekaguman dan simpati yang sama bagi Ayyash. Bocah laki-laki bermata besar itu sudah menjelma menjadi lelaki gagah, dengan kulit merah kecoklatan, hidung bangir, dan mata setajam elang. Semangat perjuangan dan ketabahan lelaki itu sungguh luar biasa. Sewaktu dua abangnya melakukan aksi bom bunuh diri, meledakkan gudang logistik israel, ia hanya mengucapkan innalillahi, sebelum bangkit dan menggemakan Allahu Akbar, Saat memasuki Rumah dan mengabarkan berita itu pada umminya. Lalu ketika Fatimah, adiknya yang berpapasan dengan tentara, diperkosa dan di bunuh sebelum di lemparkan di jalan dengan tubuh tercabik – cabik. Ayyash masih setabah sebelumnya. Padahal siapapun tahu, cintanya pada Fatimah, bungsu dari keluarga mereka.

Ayesha tak mengerti, terbuat dari apa hati lelaki itu. Setelah semua kehilangan, tak ada dendam yang lalu membuatnya menyerang membabi buta, atau meluapkan amarah dengan makian kotor. Ayyash menerima itu semua dengan keikhlasan luar biasa. Hanya matanya yang sesekali masih berkilat, saat ada yang menyebut nama adiknya. Di luar itu, hanya keshalihan dan ketaatannya pada koordinasi gerak Hamas yang kian bertambah. begitu dari hari ke hari.

Mereka berhadapan, pertama kali dalam hidupnya ia bisa bebas menatap wajah lelaki itu dari jarak dekat. Ayyash yang tenang, hanya bibirnya yang menyungging senyum lebih sering. Sejak Ijab kabul diucapkan, meresmikan keberadaan keduannya. Ayyash yang tenang dan hati Ayesha yang bergemuruh, bukan saja karena kebahagiaan yang meluap – luap, tapi oleh sesuatu yang lain. Sebetulnya hal itu ingin disampaikan pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Namun saat terbayang apa yang telah dialami Ayyash, dan senyum yang pertama kali dilihatnya begitu cerah. batin Ayesha urung. “Biarlah ….. nanti – nanti saja, atau tidak sama sekali,” pikirnya. Ia tidak mau ada yang merisaukan hati lelaki itu,terlebih karena waktu yang mereka miliki tak banyak. Bahkan sebentar sekali. Dua hari lalu, Ayyash sendiri yang menyampaikan kebenaran berita itu, niatan lelaki berusia dua puluh tujuh tahun, yang sudah selama dua pekan ini di bicarakan orang dari mulut ke mulut. “Ayyash mencari istri !!!” “ia akan menikah secepatnya, akhirnya “ “tapi siapa yang akan menerima pernikahan yang berusia sehari semalam ???” itulah percakapan gadis-gadis di lingkungan mereka. Awalnya Ayesha tidak mengerti. “kenapa sehari semalam ??” tanya Ayesha kepada ammahnya. “sebab, lelaki itu sudah menentukan hari kematiannya,” Ayesha. kini tinggal sepekan lagi waktunya hampir habis.” Ayesha ingat ia menggigit bibir menahan sesak yang tiba-tiba melanda Ayyash pasti sudah menyanggupi melakukan aksi bom bunuh diri, seperti dua saudaranya dahulu. Cuma itu alasan yang bisa diterima, kenapa pejuang yang selama ini terkesan tak peduli dan tak pernah memikirkan untuk menikah, karena mobilitasnya yang tinggi, tiba-tiba seolah tak sabar untuk segera menikah. ” Saya ingin menghadap Allah, yang telah memberi begitu banyak kemuliaan pada diri dan keluarga saya, dalam keadaan sudah menyempurnakan separuh agama.” Kalimat panjang lelaki itu, wajahnya yang menunduk dan rahangnya yang terkatup rapat. menunggu jawaban darinya. Ayesha merekam semua itu dalam ingatannya. Dua hari lalu, saat khitbah dilangsungkan. “Ya ……” jawabanya memecah kesunyian. Ammah serta merta memeluknya dengan wajah berurai air mata. bahagia berbaur kesedihan atas keputusan Ayesha. Membayangkan keponakannya yang selalu dibanggakan karena semangatnya yang tak pernah turun, akan menjalani pernikahan. Yang malangnya, bahkan lebih pendek dari umur jagung. Berganti-ganti Ayesha melihat wajah ammah yang basah dengan air mata, lalu senyum dari bibir Ayyash yang tak henti melantunkan hamdalah. Didepan Ayesha, Ayyash tampak begitu bahagia, karena tiga hari sebelum tugas itu dilaksanakan, ia berhasil menemukan pengantinnya. Seorang Bidadari dalam pejuangan yang ia hormati dan kagumi, dari kekuatan mental maupun fisiknya, ya Ayesha.

Mereka masih bertatapan, saling menyunggingkan senyum. Ayesha yang wajahnya masih sering bersemu dadu, nampak sangat cantik di mata Ayyash. “Pengantinya, Bidadarinya ……..” kata-kata itu diulang-ulangnya beberapa kali di dalam hati. namun betapa cantiknya Ayesha, Ayyash tak hendak melanggar janji yang ditekatkan jauh dalam sanubarinya. “Ayesha …… saya tak menginginkanmu, bukan karena saya tidak menghormatimu.” Senyum Ayesha surut, matanya yang gemintang menatap Ayyash tak berkedip, menunggu kelanjutan kalimat lelaki itu. Ini malam pertama mereka, dan setelah ini, tak akan ada malam – malam lain. Besok selepas waktu Dhuha, lelaki itu akan  menemukan penggal akhir hidupnya, menemui kekasih sejati. Allah Rabbul Izzati. Tak layakkah Ayesha memberikan yang terbaik baginya ??? Bagi ia yang akan menjelang syahid …….

Pendar di mata Ayesha luruh. Ayyash mendongakkan dagunya, tangannya yang lain menggenggam jari-jari panjang Ayesha, seakan mengerti isi hati istrinya. “Saya mencintaimu, Ayesha. Dan saya meridhai semua yang telah dan akan Ayesha lakukan, selama kebersamaan ini dan setelah saya pergi. Saya percaya dan berdoa, Allah akan memberimu seorang suami yang lebih baik, selepas kepergian saya.” Ayesha tersenyum, menyembunyikan hatinya yang bergemuruh. Seandainya ia dapat menceritakannya pada Ayyash. Tapi ia tak sanggup. “Tak apa, saya mengerti.” Cuma itu yang bisa dikatakan pada Ayyash. Suasana sekitar hening. Langit tanpa bulan tak mempengaruhi kebahagiaan di hati Ayyash. Bulan, baginya malam ini telah menjelma pada kerelaan dan keikhlasan istrinya. “Saya ingin, Ayesha bisa mendapatkan yang terbaik.” Lelaki itu melanjutkan kalimatnya. “Dan karenanya saya merasa wajib menjaga kehormatanmu. Kita bicara saja, ya ?? Ceritakan sesuatu yang saya tidak tau, Ayesha.”  Ayesha menatap mata Ayyash lagi. Disana ia bisa melihat kegarangan dan keteduhan melebur satu. Sambil ia berpikir keras, apa yang bisa diceritakannya pada lelaki itu ?.  Tak lama dari bibir wanita itu meluncur cerita-cerita lucu tentang masa kecil mereka. Canda teman mainnya, dan kegugupannya saat pertama berhadapan dengan Ayyash. Juga jari – jari tanganya yang berkeringat saat ia mencium tangan Ayyash pertama kali. Betapa ia hampir terjatuh karena keram, akibat duduk terlalu lama ketika mencoba bangun menyambut orang-orang yang datang menyalami mereka tadi pagi. Diantara senyum dan derai tawa suaminya, Ayesha masih berfikir tentang lelaki yang duduk dihadapannya. Sungguh, ia ingin membahagiakan Ayyash, dengan cara apapun. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Ayyash, membuat Ayesha tak habis pikir. Kenapa kebahagiaan orang lain, bisa begitu membuatnya bahagia ?  Tapi, inilah kebahagiaan itu, bisiknya sesaat setelah mereka menyelesaikan shalat malam dan tilawah bersama. kali pertama dan terakhir. Kebahagiaan bukan pada umumnya, tapi pada esensi kata bahagia. Dan Ayesha belum pernah sebahagia itu sebelumnya.

Mereka masih belum bosan saling menatap satu sama lain, dan berpegangan tangan. saat ia merebahkan diri di dada Ayyash setelah sholat Subuh, lelaki itu tidak menolak. “Biarkan saya berbakti kepadamu Ayyash.” Ia ingat Ayyash menundukkan wajah dalam, seperti berpikir keras sebelum kemudian mengangguk dan menerimanya. Beberapa jam lagi, Ayesha menghitung dalam hati. Kedua matanya memandangi wajah Ayyash yang pulas di depannya. Tinggal beberapa jam lagi, dan mereka akan tinggal kenangan. Dirinya dalam kenangan Ayyash, Ayyash dalam kenangan orang-orang sekitarnya. Ketika fajar mulai menampakkan diri, Ayesha yang telah rapi, kembali menatap Ayyash yang tertidus pulas, mencium kening dan tangan lelaki itu, sebelum meninggalkan rumah dengan langkah pelan.

Pukul setengah tujuh pagi, Ayyash terbangun oleh gedoran pintu, dan banyak orang berkerumun di depan rumah. Pada pagi pertama pernikahan mereka. “Ada apa ???” “Ayyash ………..istrimu Ayesha.” Ada titik air meruah diwajah ammah Ayesha. lalu suara-suara gamang yang berdengung. Saling meningkahi, semua seperti tak sabar menyampaikan berita itu padanya. “Setengah jam lalu, Ayyash.   Ledakan …… Ayesha yang melakukannya ……” “Gudang peluru itu. Bunyi  …. Bagaimana kau bisa tidak mendengar ???” Ayyash merasa tubuhnya mengejang. Istrinya ……. Ayesha mendahuluinya ? kepaln tangannya mengeras. Mengenang semua keceriaan dan kejenakaan, serta upaya Ayesha membahagiakannya semalam. Jadi ……..  Masya allah !!!  Istrinya kini, benar-benar Bidadari.

Pikiran itu menghapuskan rasa pedih yang sesaat tadi mencoba menguasai hatinya. Meski senyum kehilangan belum lepas dari wajah lelaki itu, sewaktu ia undur diri, dari kerumunan didepan rumah. Keramaian yang sama masih menantinya dengan sabar, ketika tak lama kemudian lelaki itu berkemas, lalu dengan ketenangan yang tak terusik, melangkahkan kakinya meninggalkan rumah. Waktunya tinggal sebentar, tentara israel pasti akan melakukan patroli kemari, sesegera mungkin setelah apa yang dilakukan Ayesha. Ia harus segera pergi. ayyash mempercepat langkahnya. Teman-temannya sudah menunggu dalam Jip terbuka yang membawa mereka berempat. Sepanjang jalan, tak ada kata-kata. Semua melarutkan diri dalam zikir dan memutihkan niatan. Operasi hari ini rencananya akan menghancurkan salah satu pusat militer Israel didaerah perbatasan. memimpin paling depan, langkah Ayyash sedikitpun tak di gayuti keraguan. saat diam-diam mereka menyusup. Allah memberinya bidadari, dan tak lama lagi, ia akan menyusulnya. Pikiran bahagianya berbicara. Ayyash tersenyum, mengaktifkan alat peledak yang melilit dibadannya. Ini, untuk perjuangan …………. Dan bumi yang terharu atas perjuangan anak-anaknya, pun meneteskan air mata. Hujan pertama pagi itu, untuk Ayyash dan Ayesha.

diambil dari cerpen Saiful Bahri

Suatu hari di hadapan panglima Rustum. Para penasihat panglima Rustum telah membuat gapura pendek. Tujuannya jelas, agar panglima muslim, Ribi bin Amir terpaksa menghadap kepada Rustum dalam keadaan membungkuk. Ini cara lain untuk membuat kehinaan. Namun apa yang terjadi??hanya dalam hitungan detik Ribi bin Amir memutar tubuhnya dan membungkuk, akibatnya sangat fatal bagi Rustum. Ribi bin Amir benar-benar telah datang dalam keadaan membungkuk, namun mendahulukan bagian belakang tubuhnya. Sebagai kisah mungkin hal ini masih dapat diperdebatkan, namun ribuan fakta masa kini, masa lalu dan masa depan, insyaAllah menunjukkan bahwa hal semacam ini bukan barang langka di dunia kita.

Inilah kasus tuan makan senjata. Jangan coba-coba memberi hina pada pemilik izzah, karena ia akan berbalik mengembalikan hina pada penghinanya, tanpa delik hukum. Yang lahir dalam badai tak takutkan raungan angin, yang selalu menggenggam api jangan ancam dengan pecikan air.

Tanpa izzah imaniyah yang kuat, susah membayangkan Sayyid Quthb menggoreskan bait-bait tegar yang kerap dilantunkan anak-anak muda hampir di seluruh dunia :

Saudaraku, engkau merdeka di balik penjara

Saudaraku, engkau merdeka dihimpit belenggu

Bila kepada Allah engkau berjaga

Makar musush takkan dapat mencederaimu.

Setelah penat tak menemukan bukti kesalahan yang ditimpakan padanya, suatu saat pihak kejaksaan memeriksa Sayyid Quthb dan menyodorkan sebuah surat “pengakuan dosa”, seraya permohonan maaf yang mereka minta ditandatangani oleh Sayyi Quthb.

Apa jawab beliau?

“jari telunjukku yang setiap hari bersaksi akan keesaan Allah, terlalu hina untuk mau menulis suatu pengakuan yang tak pernah aku lakukan. Bial dihukum secara benar, aku rela dengan hukum kebenaran. Bila dihukum secara bathil, maka bagiku terlalu hina untuk meminta belas kasihan pada kalian.”

Keajaiban Sejarah

Ajaib cara Allah mendesain untuk mereka yang tanggap dengan isyaratnya. Semoga ibunda Nabi Musa tetap teguh hati melaksanakan perintah Allah melarung bayinya, seandaikan pun ia diberi tahu bahwa anak sejarah ini sejak dini hari telah menerobos ke sarang musuhnya, di istananya, Fir’aun La’natullah. Kisah keyakinan ini jua berlaku ketika Ibrahim tak lagi peduli bagaimana ia meninggalkan bayinya yang baru lahir ke dunia di kesejangan usia nya yang menginjak 85 tahun dan merelakan istrinya yang sangat dikasihinya. Ia Cuma punya satu pilihan, meninggalkan mereka di lembah yang tak bertanamkan di sisi rumahNya yang dimuliakan. Selebihnya adalah blue print kepastian yang tak pernah terlawan. Jalan-jalan kemenangan yang otak picik kita sering menganggapnya sebagai jalan zig-zag dan adegan yang menegangkan. Kisah Nabi Nuh alaihisssalam bukan hanya sekedar yakin da’wahnya yang nampak melawan arus bahkan tercermin darikelakuannya yang membangun bahtera di dataran tinggi. Ia mampu dengan penuh yakin menjawab, “bila kini kalian mengolok-olok kami, kamipun kelak akan mengolok-olok kalian sebagaimana kalian mengolok-olok kami hari ini.”(QS Hud : 38)

Manahim Begin, seorang teroris dan mantan perdana menteri Israel, sengaja datang hari Jumat untuk mengikuti acar pemakaman presiden Anwar Sadat. Konon dia rela tidur di tenda pasukan pengaman presiden, padahal jarak tanah rampasan tempat tinggalnya dan pemakaman presiden dapat ditempuh dalam beberapa menit saja. Pasalnya orang Yahudi tidak boleh naik kendaraan pada hari Sabtu. Beberapa negarawan Yahudi rela berjalan beberapa mil untuk mengikuti pemakaman kawannya karena hari Sabtu mereka tak boleh naik kendaraan, menyalakan lampu dan larangan-larangan lainnya. Orang-orang Yahudi itu tidak nyaman bila tidak komitmen dengan ajaran keyahudiannya. Harusnya ini menjadi cermin bagi sejumlah kalangan yang tak nyaman memnuhi komitmen keislaman dan lebih bangga pada prediket lainnya.

The Man Behind the Gun

Suatu hari khalifah Umar bin Khattab ingin melihat pedang seorang mujahid legendaris yang pedangnya bagaikan baling-baling yang mencukur habis kepala-kepala musuh. Setelah sejenak memandanginya, ia kembalikan pedang itu. “bagaimana kesan khalifah melihat pedangku?”tanya si empunya pedang.

“Beliau tidak nampak kagum”, kata pembawa pedang.

Suatu hari pemilik pedang itu mengirim surat pada khalifah, “demikianlah pedang yang sudah anda dengar beritanya, wahai amirul mu’minin, hanya sayang saya tak dapat mengirimkan pedang itu dengan tangan yang menggerakannya.”

 

Hari ini pengaruh kemudahan dan fasilitas pemanjaan telah melenakan banyak kalangan. Bukan salah teknologi dan iptek atau salah bunda mengandung, melainkan ketidakmampuan jiwa untuk memberontak dari nafsu dan kelemahan diri. Padahal sejarah tak pernah dibangun kecuali denag tangan dan hati orang-orang yang yakin. Bukan soal haq dan bathil, tapi buah keyakinan itu tumbuh dari akar dan batang yang sehat dan kuat. Dengan keyakinan yang teguh, langkah yang mantap di atas bimbingan wahyu, semangat sabar berkorban, bangsa arab yang awalnya tak dikenal dalam peta dunia dan tak dilirik penjajah manapun, akhirnya menjadi guru guru dunia yang arif, bijak dan adil.

 

*diambil dari rubrik Assasiyat majalah Tarbawi oleh Syaikhuttarbiyyah, Ustadz Rahmat Abdullah



Tafawwuq

Tafawwuq, jika dicari padanan katanya yang berdekatan dalam bahasa Indonesia, kira2 adalah “keunggulan”. disini saya akan coba sampaikan sekilas tentang pentingnya tafawwuq bagi seorang kader da’wah, semoga menjadi pengingat untuk kita bersama.

seorang kader da’wah harusnya (dan ini tanpa tawar menawar) memiliki tafawwuq, memiliki keanggulan yang ini nantinya tentu memperlihatkan perbedaan, mana yang sudah menjadi kader da’wah dan belum menjadi kader.

pertama adalah tafawwaq imani (keunggulan iman). keunggulan iman artinya keunggulan ruhiyah, ibadah, moral dan akhlaq yang tak akan goyah ketika bergaul di lingkungan seperti apapun. keluhuran akhlaq, kebaikan moral dan ketahanan juang kita pada dasarnya akan muncul karena iman yang kokoh. semakin hari, tentunya tantangan da’wah yang kita hadapi semakin besar dan semakin beragam bentuknya. masalah yang akan kita hadapi pasti akan makin menguji seberapa kuat iman kita. keluhuran akhlaq kita tentu akan makin tergerus, kebaikan moral akan makin tak tampak dan ketahanan juang akan makin melemah ketika tak sedikit pun ada usaha seorang kader untuk memperbaharui dan memperkuat keimanannya. jika pada hal se-asasi ini pun seorang kader bermasalah, takutnya akan berdampak pada semua aktifitasnya

kedua adalah tafawwuq ‘ilmi (keunggulan ilmu) adalah keunggulan yang dibangun dari kepahaman yang baik tentang ilmu-ilmu keislaman yang sekaligus diselaraskan dengan ilmu-ilmu kauniyah. ilmu syar’iyah sebagai basis kita untuk mempertahankan orisinalitas islam dan apa yang sedang kita perjuangkan, sedangkan ilmu kauniyah adalah basis kita untuk mempertahankan gerak dan meningkatkan kemampuan mengembangkan da’wah, karena semakin hari tuntutan da’wah semakin beragam dan tentunya tuntutan penguasaan sarana pun makin meningkat. saat ini sudah tak zamannya lagi menjadi kader yang inferior dalam penguasaan ilmu dan teknologi. kompetensi keilmuanyang handal dan mumpuni, terutama di bidang masing-masing, adalah tuntutan yang mau tidak mau harus dipenuhi. keunggulan ilmu ini akan memancarakan ketajaman pandangan hingga mampu menembus tabir-tabir kesemuan dalam pergaulan yang membuatnya tetap bisa menjaga orisinalitas dan gerak kemajuan da’wah.

ketiga adalah tafawwuq ‘amali (keunggulan amal) adalah keunggulan seorang kader dalam mengejawantahkan iman dan ilmunya dalam bentuk amal yang terbaik, kualitas dan kuantitasnya. iman itu akan terus terjaga jika ia dibuktikan dalam bentuk amal nyata. ghirah itu akan terus terjaga jika raga ini terus “dipaksa” untuk beramal. jika seorang kader, kualitas dan kuantitas amalnya sama atau bahkan lebih buruk dari seorang yang bukan kader da’wah, lalu apalagi yang akan menjaga dan menguatkan dirinya dalam aktifitasnya. jika interaksi rutin dengan AlQuran sudah sangat jarang, dhuha sekali sepekan pun tak ada, qiyamullail yang sudah nyaris terlupakan, lalu apalagi yang bisa membuat ketertarikan terpancar dari pribadinya yang bisa membuat orang mengiyakan da’wahnya, menerima seruannya. keunggulan amal bagi seorang kader juga menjadi tuntutan yang harus dipenuhi.

semoga bisa menjadi i’tibar dan tadzkirah, terutama bagi saya pribadi dan bagi yang membaca. semoga Allah makin menguatkan keistiqamahan kita, makin memudahkan langkah kita dan memperkuat ukhuwah kita. semoga semangat da’wah selalu menaungi setiap aktifitas kita. amiin.

-diambil sebagian dari rubrik taujih ustadz hilmi aminuddin dalam majalah Al-Intima’ edisi 007-

kawan, logika apa yang bisa menjelaskan 313 orang muslim di Badar bisa memukul telak 1000 orang musyrik, bahkan sampai menewaskan pemimpin-pemimpin mereka?

atau logika apa yang bisa menerangkan 2000 orang muslim pada perang Khandaq bisa memulangkan babak belur 10.000 orang Quraisy dan para sekutunya?

atau logika apa yang bisa menjabarkan negeri yang kacau balau, namun dalam 2 tahun saja menjadi negeri yang penuh berkah di bawah pimpinan Umar bin Abdul Azis?

atau logika apa yang bisa membuat kita mengerti dengan sang Al-Banna yang bermimpi belajar dan semua dalam mimpinya benar2 terjadi esoknya?

Biarlah Allah yang menyampaikan pada kita…

kawan, mungkin sering kita merasa dalam sempit kita, tak merasa mendapat pertolongan dari Allah, dalam susahnya kita seringnya berfikir tak ada mendapat campur tangan Allah melancarkan masalah kita. sangat sering mungkin kita menuntut dan menuntut akan datangnya bantuan dari Allah untuk kita, tapi pernahkah kita berfikir sudah sejauh mana kita sudah melakukan sesuatu yang mengundang datangnya pertolongan Allah. pertolongan langit takkan datang begitu saja kawan…

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS An-Nuur : 55)

inilah yang pertama kawan, janji Allah akan memberikan kemenangan dan keteguhan di bumi bagi orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta tidak mempersekutukan Allah. inilah yang pertama harus menjadi refleksi bagi kita. sudahkah benar iman kita, sudah benarkah amal kita dan sudah benar2kah kita meninggalkan segala bentuk kesyirikan sehingga kita sudah pantas Allah beri kemenangan dan keteguhan pada kita.

selanjutnya…

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS Muhammad : 7).

inilah janji Allah (dan pasti Maha Menepati akan janjiNya) akan memberikan pertolongan dan kemudahan serta kemuliaan kedudukan dikarenakan kita menunaikan tugas kita sebagai penolong agama Allah, menyebarkan agama Allah dan menegakkan kalimat Allah. sudah seberapa besarkah pengorbanan yang kita berikan untuk menegakkan agama Allah ini sehingga kita pantas mendapat pertolongan dari Allah?jika pertolongan Allah tak sering menghampiri urusan kita, mungkin kita harus introspeksi disini, pertolongan apa yang sudah kita beri untuk tegaknya agama ini?

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ankabuut :69)

selanjutnya simaklah pesan sang Khaliq pada kita. bahwa jalan-jalan kemudahan akan Allah berikan bagi orang yang benar-benar mujahadahnya, orang yang sungguh-sungguh usahanya. mungkin di titik ini pun kita harus introspeksi diri kita. kita harus hisab seberapa kuat mujahadah kita, seberapa sungguh usaha kita, sehingga kita sudah pantas mendapatkan jalan-jalan kemudahan dari Allah.

pada akhirnya kita berhenti dulu pada ayat ini…

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Al-Mu’min : 60)

inilah faktor yang sangat penting yang kadang sering kita lupa atau tak sungguh kita melakukannya. pada akhirnya kita hanya manusia yang tak punya kuasa apa-apa, serba tak sempurna, serba kekurangan dan tak mampu melakukan apapun, kalaulah bukan karena izin Allah. maka pesan Allah di ayat ini menjadi sangat penting kita resapi. doa adalah senjata orang beriman. yang tak mau meminta padaNya, kata Allah, hanyalah orang-orang yang sombong. maka iringilah selalu tiap ikhtiar kita dengan doa, niscaya akan Allah kabulkan. kawan, semoga dengan kita berusaha menjadi orang beriman yang sebenarnya, kemudian kita beramal shaleh, menginfakkan diri kita untuk tegaknya agama ini, bermujahadah dalam segala urusan kehidupan kita dan kemudian mengiring semuanya dengan doa maka Allah akan memudahkan segalanya bagi kita, biidznillah….

Seorang lelaki mulia, yang fisiknya Allah takdirkan tak sempurna, tapi karenanya Rasul yang mulia pernah ditegur Allah dalam Surat ‘Abasa. Seorang lelaki luar biasa yang ditugasi menggantikan Rasulullah mengimami Shalat ketika Rasul sedang berangkat ke medan perang. Dialah Abdullah bin Ummi Maktum.

Kisah ini terjadi di masa pemerintahan Umar bin Khattab, ada seruan berjihad dari Khalifah. Khalifah menginginkan semua persiapan perang semaksimalnya. “Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang orang bersenjata, orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya, sesegera mungkin!”, begitu komando khalifah.

Dalam kondisi ini Abdullah termasuk orang yang punya udzur dan boleh untuk tidak mengambil bagian dalam perang.bahkan khalifah pun punya alasan melarangnya ikut,”iya kalau yang ia tebas adalah musuh,bagaiman kalau yang kena tebasan pedangnya adalah kawan?”,begitu alasan khalifah Umar.Tapi, Abdullah bin Ummi maktum tetaph Abdullah bin Ummi Maktum, dia adalah manusia luar biasa, manusia yang tak pernah menyerah pada keterbatasan fisiknya, ia selalu punya cara, mencari-cari alasan agar ia tetap dibolehkan ikut berperang.

“Tempatkan saya di antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegangnya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari”. Begitu kira-kira dalih logis yang disampaikannya. Pada akhirnya khalifah memang mengizinkan ia ikut dalam pasukan perang besar ini, dan pada akhirnya nanti kita akan tahu, kemenangan besar pada perang Qadisiyah ini ditebus dengan syahidnya banyak syuhada, salah satunya Abdullah bin Ummi Maktum. Ia syahid bersama bendera islam yang masih dipeluknya.

Kisah lain seorang sahabat Rasul bernama Amr bin Jamuh. Sahabat ini Allah takdirkan memiliki fisik yang juga kurang sempurna, Ia pincang. Tapi lihatlah bagaimana kuat tekadnya melawan keterbatasan fisiknya. Ia sampai “bertengkar” dengan keempat anak laki-lakinya lantaran ia dilarang ikut ke medan perang ke medan perang. Bahkan ia sampai mengadu pada Rasulullah soal anak-anak yang melarangnya berperang, sampai ia berucap,”Ya Rasulullah, tak bolehkah aku menginjak surga dengan kaki pincangku ini?”. Kuatnya azzam Amr bin Jamuh membuat Rasulullah mengizinkan ia ikut ke medan perang, Uhud menjadi saksi syahidnya ia bersama putra-putranya. Subhanallah.

Kisah lain tentang seorang mulia yang hidup di abad ini. Ikon perjuangan di tanah Palestina. Ya, syeikh Ahmad Yasin. Karena kecelakaan yang dialami pada usia belianya, berakibat fatal pada fisiknya. Bagian tubuhnya yang bisa berfungsi dengan baik hanya bagian leher ke atas, hanya bagian kepala saja. Tapi Ahmad Yasin tetaplah Ahmad Yasin. beliau tak pernah mengalah atau menjadikan udzur ini sebagai alasan untuk tidak ikut berjuang. Beliau tetap mengambil peran penting dalam perjuangan rakyat Palestina. Untaian mutiara yang mengalir dari lisannya yang bahkan hampir tak terdengar selalu mampu membangkitkan semangat para pejuang, selaksa hikmah yang beliau ajarkan bahkan selalu mampu mencetak para pejuang baru yang siap menjadi pelanjut juang di tanah para Nabi itu. Bahkan untuk membuat syahid beliau yang sudah tua dan tak mampu apa-apa secara fisik ini, Israel la’natullah masih membutuhkan dua helicopter tempur Apache. Betapa menakutkan syekh Ahmad Yasin di mata mereka. Allahuakbar!

Seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, yang namanya monumental di negeri ini, bahkan menjadi nama jalan di seluruh pelosok Indonesia. Ia menjadi panglima TNI pertama, termuda, dan itu ia dapatkan tanpa karir militer. Ia adalah Jenderal besar Soedirman.Beberapa waktu setelah negeri ini merdeka, ia diangkat menjadi panglima TNI oleh bung Karno. Setelah proklamasi tak serta merta negeri ini aman. Salah satu babak terpenting, selain kemenangan pada Palangan Ambarawa, yang menunjukkan betapa luar biasanya manusia ini adalah pada agresi militer Belanda yang kedua pada Desember 1948. Pasukan TNI terdesak, Para tokoh nasional tertangkap, tapi jenderal tetaplah jenderal, ia harus tetap memimpin perang, dengan gerilya. 7 bulan lamanya beliau memimpin gerilya keluar masuk hutan, hit and run terhadap pasukan sekutu, dalam keadaan menderita tuberculosis yang sangat parah, nyaris tanpa perawatan medis selama itu dan beliau memimpin perang dalam keadaan ditandu. Walau berakhir dengan gugurnya beliau karena TBC yang semakin menggerogoti tubuh beliau, tapi perjuangannya tak pernah sia-sia. Sekutu menyerahkan sepenuhnya negeri ini. Merdeka dengan de facto dan de yure.

Kawan-kawan, manusia-manusia luar biasa diatas adalah beberapa diantara sekian banyak manusia yang namanya monumental di panggung sejarah manusia, tercatat dengan tinta emas di kitab perjuangan, karena perjuangannya, kerana kuat azzamnya, karena mereka adalah orang yang yang tak menjadikan keterbatasan fisik menjadi alasan tak turut berjuang. Mungkin kita tak bisa bayangkan betapa beratnya menjadi Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, atau lagi menjadi syekh Ahmad Yasin yang tubuhnya hanya berfungsi bagian leher ke atas saja. Mungkinkah jika kita seperti mereka, kita masih tetap akan berjuang??

Kawan-kawan, mari kita sedikit berefleksi. Bagaimana kondisi fisik kita dibanding mereka? Saya yakin banyak diantara kita yang secara fisik jauh lebih baik dari mereka. Banyak diantara kita yang punya fasilitas jauh lebih lengkap dari mereka. Selain fisik yang lebih sempurna, kita masih didukung oleh kecanggihan teknologi, mobile phone,laptop,Blackberry,sepeda motor,mobil,facebook,twitter,dll. Tapi bagaimana sikap kita dalam perjuangan ini? Sudah sunguh-sungguhkah kita berjuang?Apa yang sudah kita torehkan di panggung juang ini?sudah adakah?

Kawan, kita dan mereka sama-sama suka mencari-cari alasan. Kita, dengan segala kelebihan sering mencari-cari alasan untuk tak ikut berjuang dan mereka, dengan segala kekurangan selalu mencari-cari alasan untuk tetap bisa berjuang. Malulah kita pada mereka, jika terlalu sering kita izin dari medan perjuangan karena alasan-alasan yang sangat sepele, dan tak masuk akal harusnya…motor habis bensin, motor terlanjur dikandangin, capek kekenyangan, ngantuk, terkepung gerimis,dll….

Selanjutnya kita harus hati-hati dengan firman Allah berikut ini

“Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.” (QS At-Taubah :47)

Hati-hati, jangan sampai ketidakhadiran kita memang karena Allah tak hendak kita hadir di medan juang. sebabnya bisa jadi, karena niat kita yang tak bulat dan azzam kita yang tak kuat, maka ada-ada saja alasan yang muncul ketika panggilan da’wah itu datang.

Akhirnya, kita adalah manusia yang telah ditakdirkan untuk hidup di dunia tanpa pernah kita memintanya. Tapi mengambil peran dalam perjuangan dan sungguh-sungguh di dalamnya adalah sebuah pilihan, dan pilihan apapun yang kita ambil pasti akan ada konsekuensinya, sekarang dan nanti. Semoga Allah selalu menjaga niat kita dan menguatkan azzam kita.

Amiin…

Tahun 2011, dua momen ini hadir pada waktu yang hampir bersamaan, satunya peringatan lahirnya manusia paling agung dan paling sempurna, tanpa cela akhlaqnya, tanpa cacat lakunya, sangat mulia lakunya dan sangat sayang pada umatnya, Nabi Besar Muhammad SAW, dan satu lagi perayaan antah berantah, yang katanya hari kasih sayang, tak ada sama sekali dalam budaya islam, orang-orang yang ikut-ikutan merayakannya pun bahkan tak tahu dan tak mengerti apa yang sedang mereka rayakan. Naudzubillah.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS Al-Isra’ : 36)

Yang pasti satu hal, dua momen ini adalah dua momen yang sangat bertolak belakang. Momen hari valentine hadir sebagai satu kebudayaan yang jauh dari nilai-nilai agama, bahkan bukan agama islam saja. budaya yang seringnya hanya berisi sesuatu yang mengundang dosa, penuh kesia-siaan, tidak nyunnah, mubazir dan yang pasti mengejawantahkan satu rasa yang mulia, cinta, pada tempat dan cara yang tidak semestinya. Sedangkan Maulid nabi Muhammad, adalah satu momen dimana pada waktu itu hadir seorang mulia ke ke dunia, yang mengubah wajah dan peradaban dunia, yang menuntun manusia ke jalan TuhanNya, yang mengajak manusia mengEsakan Tuhan, yang mengajarkan manusia betapa nikmatnya turut serta di altar perjuangan. Allahumma shalli ‘alannabiyyina wahabiibina Muhammad.

Saya tidak akan membahas panjang tentang valentine, Karena takut akan jadi promosi valentine. Sebarkan sajalah cinta dan kasih sayang sepanjang waktu, tanpa harus nunggu tanggal 14 februari datang, mari kita bahas tentang mauled Nabi, momen kita untuk merefleksikan lagi perjuangan kita agar ia seirama dengan perjuangan Nabi kita.

Di Negara kita, peringatan Maulid nabi dimasukkan sebagai hari besar umat islam, bahkan kegiatan terstruktur birokratik diliburkan pada hari itu. Perayaannya sendiri masih menjadi khilafiah di kalangan umat islam, ada yang membolehkan dan ada yang tidak, dengan hujjah dan dasar pijakan masing-masing yang jelas. Khilafiah adalah satu hal yang sangat lumrah dalam kehidupan beragama dan kita harus menyikapinya dengan jiwa besar. Saya pribadi tidak ingin menekankan tentang khilafiah ini dan kita masing-masing silakan mengikuti pendapat yang mana yang kita rasa kuat.

Perjalanan da’wah yang kita lalui mungkin sudah berjalan cukup jauh. Proses yang kita jalani mungkin sudah cukup panjang. Medan yang kita hadapi pun semakin beragam. Dari panjangnya jalan, rumitnya proses dan beragamnya medan tentu disitu ada peluang-peluang da’wah yang kita lakukan keluar dari tracknya. Tentu ada peluang-peluang da’wah kita menjadi tak seirama dengan da’wah yang digalang oleh para pendahulu kita. Yang jika kita tidak segera luruskan, dikhawatirkan peluang itu akan berubah menjadi kenyataan.

Momen mauled Nabi Muhammad 1432H ini sejatinya dapat kita manfaatkan untuk berhenti sejenak, melihat kembali jejak langkah kita, apakah ia sudah seirama dengan jejak da’wah Rasul dan para pendahulu. Berhenti sejenak mempelajari kembali kehidupan Rasul yang mulia, agar tiap lakunya bisa kita teladani untuk kita hadirkan dalam keseharian kita agar islam benar-benar hadir menjadi Rahmatallil’alamiin. Berhenti sejenak melihat kembali bagaimana Rasul bersikap terhadap segala fenomena kehidupan yang ada, karena banyak hal yang kita alami saat ini, sebenarnya sudah pernah ada sebelumnya dan sejarah mengulang dirinya dalam bentuk yang berbeda. Berhenti sejenak menguatkan lagi aqidah sebagai dasar pijakan kita, bahwa keimanan yang murni pada Allah dan Rasulullah Muhammad dan segala yang mensifatinya adalah sesuatu yang sangat asasi dan tanpa tawar menawar.

Terakhir, jangan pernah kita lupa akan kondisi saudara seiman kita di tanah para Anbiya’, Palestina. Sampai detik ini Zionis la’natullah masih melanjutkan kebiadabannya disana. Masih memboikot segala kebutuhan saudara kita disana, bahkan dua hari yang lalu, Zionis menyerang lagi melalui darat dan udara ke tanah Gaza. Apapun yang terjadi, baik di negeri kita maupun di luar sana, hendaklah tidak luput perhatian kita pada saudara kita di Palestina. Apalagi yang menjadi bukti bahwa kita adalah saudara mereka jika hanya sebatas doapun tak mampu kita kirimkan untuk mereka.

-semoga Allah selalu mengistiqamahkan kita-